SHARE

Ratusan delegasi berkumpul di The Sunan Hotel Solo 6 -9 September lalu . Sebuah perhelatan event internasional untuk kesekian kalinya kembali digelar di The Sunan Hotel Solo. Federation For Asian Cultural Promotion (FACP) menggelar konferensi tahunan ke – 30 di kota Solo dan the Sunan Hotel Solo kembali menjadi saksi sejarah.

FACP merupakan wadah bagi negara negara anggotanya untuk berkumpul dalam konferensi yang diadakan setahun sekali,juga ajang diskusi mengenai industri seni dan hiburan di kawasan Asia Pasific. Konferensi FACP setiap tahunnya diadakan di Negara yang menjadi anggotanya dengan cara kota/Negara tersebut mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah yang kemudian ditentukan melalu “ voting “ dalam Executive Board Meeting para Governor representative dari Negara/kotanya.

Sejak berdirinya FACP, representative dari Indonesia hanya terwakili pada 2 tahun pertama, setelah itu didalam FACP tidak ada perwakilan dari Indonesia. Berkat kesuksesan “Matah Ati“ di Singapura pada Oktober 2010 lalu, Indonesia diundang menjadi salah satu Negara yang termasuk dalam Federation For Asian Cultural Promotion (FACP) dengan ibu Atillah Soeryadjaya sebagai gubernur representative dari Indonesia.

Dalam setiap rangkaian acara konferensi FACP masing masing Negara anggota dapat membawa pertunjukkan seni dari negaranya yang diseleksi sebagai “ Asian Gems in the Art “ untuk ditampilkan. Pada gelaran Konferensi FACP di Solo yang tampil adalah Chiawei Lin (Gitaris) dari Taiwan, Le Wushu Arts Theatre (Malaysia), Aileen Chnaco (pianist) dari Filipina,The Baba Nyonya Culutral show (Malaysia) serta Karya tari Aksara Tubuh (Honocoroko) dari Indonesia.

Pembicara yang tampil pun tak kalah menarik Windu Nuryati wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Goenawan Mohamad penulis, Sutradara Garin Nugroho, Dewi Gonta dan Ronald Kleverland ( Belanda), Glorife Samodio (Philipina) dan walikota Solo Joko Widodo. Acara FACP sendiri dibuka oleh Menko Kesra Agung Laksono pada 6 September 2012 lalu di Grand Ballroom The Sunan Hotel Solo.

11 COMMENTS

  1. saya tidak begiru tahu soal facp..saya mendengar juga baru pertama kali saat akan ada acara Matah Ati..semoga kebudayaan Indonesia dapat di kenal seluruh dunia dan tidak diklaim oleh negara lain.. :)

  2. semoga the sunan dapat melaksanakan event yang lebih besar lagi,
    dan semoga acara itu dapat menjadi wadah untuk menampilkan budaya indonesia yang beraneka ragam.

  3. Dengan FACP kita akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan khususnya di bidang seni budaya yang dimiliki oleh berbagai negara.Tentu saja dari sana kita bisa belajar langsung dari seniman2 berbakat.
    Disamping event yang menarik tapi mengandung banyak pelajaran…

  4. FACP event Internasional ajang diskusi mengenai industri seni dan hiburan di kawasan Asia Pasific
    so buat Kesenian & budaya tunjukin dartarkan kedinas terkait serta perkenalakan pada negara lain
    biar ga di klaim negara tetangga lagi
    hehehhe

  5. Berkat kesuksesan “Matah Ati” Indonesia dapat diundang menjadi salah satu negara angota FACP.

    Jadi bentuk kesenian di indonesia tidak kalah dengan kesenian bangsa lain, jdi kita sebagai Penduduk indonesia harus bangga dan menjaga kesenian kita.

  6. Berkat kesuksesan “Matah Ati“ di
    Singapura, Indonesia
    diundang menjadi salah satu Negara yang
    termasuk dalam Federation For Asian Cultural
    Promotion (FACP).

    Jadi kesenian bangsa Indonesia tidak kalah dengan kesenian negara lain, Oleh karena itu kita sebagai penduduk Indonesia patut menjaga dan melestarikannya.

  7. FACP menjadi gudang ilmu buat kita terutama di bidang seni. Banyak manfaat yang dapat diperoleh. Selain belajar seni dan budaya dari berbagai negara tetapi kita juga dapat menikmati dan mendalami apa yang terkandung dalam seni tersebut. So, FACP merupakan event bagus untuk dilestarikan dan dikembangkan.

  8. FACP acara ini sekilas mirip dengan acara SIPA yang digelar di lapangan Mangkunegaran kemarin, mungkin bedanya ini lebih istimewa dilihat dari tempat dan tamu-tamu undangan yang hadir.

LEAVE A REPLY